<!–[if !mso]> <! st1\:*{behavior:url(#ieooui) } –>
Entah karena aku terjatuh atau terantuk apa, tiba-tiba saja semua penglihatan yang ada di hadapanku berubah menjadi gelap dan proses itu dimulai sama seperti televisi rusak yang kesemutan dan berakhir dengan kematiannya. Sepertinya keseimbanganku goyah. Aku merasakan pantatku menghantam permukaan dengan kerasnya walau tidak terasa sakit sedikitpun. Aneh. Mataku yang kupejamkan karena pusing melihat penglihatanku yang tiba-tiba kacau itu, kubuka dengan perlahan-lahan dan pasti. Walaupun masih terlihat samar-samar dan dalam setengah sadar, aku sudah bisa melihatnya di hadapanku: seorang gadis yang berdiri tegak tanpa sedikitpun memberi bantuan kepadaku yang telah jatuh ini. Baiklah, penampakannya yang utuh baru bisa kulihat jika aku sudah membenarkan posisi tubuh dan mataku.
Bisa dibilang dia seumur denganku. Ah, baju yang dipakainya pun pakaian biasa yang sering dikenakan anak-anak muda zaman sekarang. Tangan kanannya yang mungil memegang dengan erat salah satu telinga boneka kelinci putih besar bermata merah yang terkulai hingga menyentuh lantai. Sepertinya aku kenal dengan perempuan ini. Tapi siapa? Sial, aku belum bisa fokus. Entah kenapa kepalaku seperti tidak mau bekerja sama…!
“Lupa padaku…?”
Hah? Dia berbicara padaku? Aku perhatikan dengan seksama untuk menjawab pertanyaannya dengan segera. Akan tetapi tetap saja aku hanya bisa menjawab dengan mimik muka masa bodoh karena dia tidak ada dalam memori! “Entahlah…” jawabku apa adanya sambil tetap menatapnya. Menatap matanya…
“Lupa padaku…”,oke pengulangan kata-kata dimulai,”..Ganteng??”
“HA?!”. Kalau mau tahu, telingaku berubah menjadi merah seketika.
“Aku tahu kalau aku ini ganteng. Tapi kalau dikatai ama cewek yang baru pertama kali ketemu kayak kamu…aku jadi….”. Tunggu. Aku pernah mengatakan kata-kata ini di suatu tempat. Pada suatu waktu. Apakah ini yang namanya Déjà vu…? Déjà view…? Sekali lagi aku melihat ke arah perempuan itu dan akhirnya aku menyadari sesuatu.
Mataku terbelalak. Di dalam kepalaku, rekaman-rekaman memori yang tadinya sulit kucari malah berputar dengan lancarnya. Pertemuan dengannya pertama kali dan cara sapa yang tidak biasa kepadaku kemudian matanya yang hitam legam, rambut coklatnya yang tipis, poninya yang tidak beraturan, bibirnya yang merah muda mungil dan kulitnya yang putih itu… tidak salah lagi…Aemi. Aemi, si murid SLB di daerahku.
Aku sudah bisa memastikan bahwa kepalaku dan mataku sudah baik-baik saja, siap menerima beberapa keanehan yang secara tiba-tiba ada di sekelilingku. Aku berdiri dengan perlahan-lahan dan memulai pembicaraan. “Baiklah Aemi. Kau cukup mengejutkanku dengan tiba-tiba saja berbicara seperti itu…”
Langsung dijawab Aemi ternyata. “Memangnya kenapa?”. Wajahnya tetap saja datar, tidak merasa ada yang janggal. Terasa manis memang…tapi aneh.
“Jangan bercanda…! Kamu itu gagu.. ngomong pun susah…kenapa tiba-tiba…”
“Jahatnya…”
Oke, aku sudah bisa menangkap alismu yang terangkat tapi tetap saja ini cukup mustahil. “Maaf Aemi…tapi kita baru saja ketemu tadi dan berbicara dengan bahasa isyarat karena kamu…”.Mari aku perhalus kata-kata itu. Proses ameliorasi dimulai. “…tuna wicara…”. Sebenarnya aku sedang berusaha menolak kenyataan. Pelafalan kata-kata yang diucapkannya sangat jelas. Jika memang ada penelitian tentang penyembuhan kilat, ah tidak, secepat cahaya seperti ini, aku akan percaya. Akan tetapi sekarang??!!!
“Prandie…”, ujarnya sambil tersenyum manis. Baru kali ini dia memanggil namaku dengan sangat jelas. “Apa kamu belum menyadari suatu hal? Kita bukan berada di pojok lorong sekolah lagi lho…”. Lagi-lagi berbicara dengan jelas dan lancar!! Aku tidak mengerti!! Dan tanpa basa-basi juga aku langsung melihat ke sekitarku…Ini memang bukan pojok lorong sekolah!!!!
TEMPAT APA INI????!!!!
“TEMPAT APA INI????!!!!”, ‘dan kenapa aku ada di sini?’ menjadi pertanyaan untuk diriku sendiri. Mendengar aku bertanya sekeras itu pun, Aemi masih mendiamkan dan membiarkanku untuk mengetahui tempat seperti apa ini sebenarnya.
Ruangan bercat kuning gading muda dengan penerangan yang terang. Aku bisa mengira-ngira, luas ruangan ini sekitar 3×4 meter. Hanya ada satu pintu kayu di belakangku dan masing-masing satu jendela di sisi dinding kanan dan kiriku. Kakiku sedang berada di atas karpet oval besar dan tebal berwarna merah bermotif bunga-bunga abstrak; aku tak bisa menyebutkan spesies bunga apa itu. Mataku kembali menatap Aemi yang diam, berdiri mematung, terpaku dan masih tersenyum dengan tenang itu. Aku dan Aemi terpaut jarak karena keherananku dan keanehan yang ada. Di samping kanannya ada dua kursi sederhana dan satu meja bundar yang berukir ukiran khas Jawa di antara keduanya. Di sebelah kirinya ada satu tempat tidur single yang tertutup seprai kain putih polos bersih dengan bantal dan guling dibalut dengan kain yang sama di atasnya. Jadi, dengan sangat jelas, aku sedang berada di dalam kamar seorang anak perempuan (yang aneh) secara tiba-tiba, berdua.
“Selamat datang di dunia Aemi, Prandie. Dunia ini ..Aemi sebut Matta…”, tiba-tiba saja Aemi membuka pembicaraan. Wajah yakin dan bangga benar-benar tersirat.
“Tunggu! Sebelum kamu menjelaskan mata atau apapun itu, tolong jelaskan tentang ini semua dulu.” Mau tidak mau, pembicaraan yang aneh ini harus ‘kukuasai’. Kalau tidak, semakin lama aku tidak bisa mengerti apapun soal ini. “Aku mengetahuimu beberapa hari yang lalu sebagai murid SLB yang kekurangan. Ngomong denganmu pun ga mudah, harus bicara pake bahasa isyarat. Dan hari ini, baru saja satu jam yang lalu, kamu narik tanganku hingga ke pojok lorong sekolah, ngegumam yang ga jelas dan tiba-tiba saja aku udah ada di kamarmu dan kamu tiba-tiba bisa bicara..?! Maksudnya apa?!! Siapa kamu sebenarnya, Aemi?!”
Air mukanya berubah. Perlahan-lahan dia memeluk bonekanya yang besar itu: menandakan sebuah ketakutan akan kebenaran yang sulit diungkap.
“Aemi.. belum bisa menyebut siapa diri Aemi sebenarnya dengan lengkap kali ini. Tapi Aemi memang bisu, mental Aemi juga cacat dan yang berbicara ini Aemi juga.”
“Aku masih ga percaya dan ga ngerti.”
“…”. Aemi malah mendiamkanku lebih lama lagi. Kau tahu? Berlalunya waktu tidak akan membantuku untuk memahami sesuatu. Aku membutuhkan suatu penjelasan yang sekarang tidak sedang kau berikan padaku. Baiklah, cukup. Aku sudah cukup muak.
“Lebih baik aku keluar dari ruangan ini dan pulang…”. Terserah aku mau dibilang kabur dari masalah atau apa, aku sudah tidak perduli lagi.
“Tunggu! Jangan keluar!”, cegah Aemi tiba-tiba. Aku bisa mendengar langkahnya yang berlari ke arahku yang telah membelakanginya itu. Tangannya berhasil menarik ujung kemeja kotak hijauku tepat sesaat aku telah memegang kenop pintu.
“Lepaskan aku….aku mau kembali ke kenyataanku..”. Yah..walaupun aku juga tidak mengerti ‘kenyataan’ apa yang kumaksud tadi.
“Kumohon jangan keluar dari ruangan ini..”. Kali ini aku sempat memperhatikan sebentar wajahnya. Rasa mohon yang cukup tersirat jelas ada di wajahnya. Wajahnya yang lebih muda dari usianya membuat aku harus mengikuti permohonannya.
“Maaf Aemi. Sebenarnya aku ga suka dipaksa apalagi sampai tanganku ditarik-tarik kayak gini”. Aku berusaha melepaskan genggaman tangannya dari kemeja ku kemudian dengan buru-buru aku membuka pintu dan menutupnya lagi dengan segera.
Akhirnya aku keluar dari ruangan itu. Semoga saja ketika pertama kali ku- langkahkan kakiku keluar, semua kembali ke kenyataan yang semula. Simpulannya, aku berharap ini adalah sebuah mimpi. Bangunlah Prandie dan sadarilah ketika bangun bahwa kau telah bermimpi aneh.
Aku bisa saja berharap demikian tapi takdir berkata lain. Penglihatanku kacau secara tiba-tiba lagi. Aku merasakan kekacauan ini setelah kepala kiriku berdenyut lemah tapi terasa ngilunya. Kini aku melihat, di depanku berdiri seorang wanita berambut hitam ikal panjang memakai gaun satin hijau muda. Wanita itu tinggi semampai. Angin yang mengalir membuat gaun itu berkibar dan sempat membentuk tubuhnya yang semampai itu. Cantik. Sepintas seperti orang yang pernah kukenal. Memang bukan ‘seperti’. Setelah kulihat lebih jeli, ternyata aku sedang melihat ibuku… yang telah lama tiada, tepat di hadapanku.
Hal yang tidak logis muncul lagi di hadapan mata dan kepalaku. Akan tetapi untuk yang satu ini, kebenaran apa pun itu, aku hendak mengenyahkannya barang sesaat. Di depanku aku telah melihat ibuku lagi. Orang-orang benar, beliau sangat cantik. Perasaan hangat dan tentram benar-benar tersampaikan dengan baik melalui matanya. Jarakku dengan beliau pun tidak jauh. Aku benar-benar ingin memeluknya sekarang. Tidak salah lagi, aku akan melakukannya sekarang…
Namun, langkah pertama ku kali ini seperti menghancurkan kenikmatan yang sesaat itu. Ibu yang tadi tersenyum, berdiri dengan tenang, menunggu anaknya datang untuk menghampirinya….tanpa kumengerti mengapa, tiba-tiba tubuhnya terpotong-potong dengan seketika. Bagian-bagian tubuhnya terpisah dengan sempurna di depanku yang tak kuasa berbuat; aku sedikitpun tak bisa bergerak ke arahnya.. Darah merah bertebaran di sekitarku, mengaburkan pandanganku, rasa suka citaku berubah menjadi sebuah pemandangan kematian yang tidak ingin kulihat. Kesal karena tidak bisa mencegah itu semua, aku hanya bisa berteriak hampa memanggil namanya, menangis memikirkan betapa bodohnya aku tidak bisa membiarkan kepergiannya. Rona wajahnya yang hangat menjadi rintihan kesakitan yang luar biasa. Bagian tubuhnya yang terpotong-potong itu menjadi berserakan diselimuti oleh darah. Aku merinding. Aku tak sanggup lagi…
Kumohon hentikan..!!! Aku langsung memalingkan mukaku sambil menutup mata, masih berharap ini adalah suatu ‘ketidaklogisan yang berturut-turut’. Namun tidak untuk ke sekian kali. Ke mana pun aku melihat, aku hanya bisa melihat pemandangan berdarah-darah itu…Benar-benar bisa menjadi suatu traumatik tersendiri jika tangan itu tidak segera menutup mataku.
‘Sudah Aemi katakan jangan keluar….’
Sekarang, aku sudah berada di dalam ruangan bercat kuning gading itu. Anehnya, di ruangan ini aku tidak melihat penglihatan itu lagi. Di sini aku bisa mendengar detak jantungku yang berlari dengan kencangnya seperti mendapat serangan takikardia secara tiba-tiba. Aemi-lah yang menuntunku yang sudah ‘lemas’ ini kemari sambil menutup mataku dengan sebelah tangannya. Aku duduk terkulai di kursi dan di depanku Aemi sedang menungguku untuk pulih dari efek ‘penampakan’ tadi.
Tidak habis pikir aku telah mengalami berbagai macam hal yang tidak logis hari ini. Ini benar-benar mengganggu pikiranku. Keadaan ibu tadi…ah! Tidak! Aku tidak mau memikirkan itu lagi sekarang. Tidak mau…
Setelah lama cukup menunduk dan menenangkan pikiranku, aku menatap Aemi yang ada di seberang meja, menungguku sambil terus memperhatikan diriku. Baiklah…siap atau tidak aku akan mendengar sebuah penjelasan.
“Tidak apa-apa sekarang… kau bisa menjelaskan semua ini sekarang juga…”. Jelas saja hal ini adalah sebuah pemaksaan: aku masih saja memegang kening dan mataku masih mengkerenyut. Namun, sepertinya Aemi telah mengerti, kalau semakin cepat semakin lebih baik.
“Hmmh…Aemi mulai dari mana ya…”. Beberapa saat setelah dia berpikir… “Prandie, Matta adalah dunia penglihatan yang Aemi buat baru-baru ini dengan kemampuan Aemi yang bisa menerobos ‘ruang’ di balik mata seseorang. Kemampuan yang Aemi punya ini, membuat Aemi bisa bebas keluar masuk ke dalam mata seseorang untuk mengambil informasi tentang orang tersebut dengan tanpa cela.” Pada saat Aemi menjelaskan hal-hal tersebut, kepalanya menunduk dan matanya tidak melihat ke arahku. Aku hanya bisa mengangkat alisku sebagai reaksi kagetku. Energiku telah habis terserap oleh kejadian tadi.
“Jadi…kamu…semacam anak indigo ya…”. Dia mengangguk. Sekarang aku mau membetulkan posisi dudukku. Perubahan posisi dudukku ini benar-benar memberi kesan aku mau mendengarkannya dengan serius sehingga wajahnya yang kaku karena merasa bersalah menjadi sedikit lumer. Ya… aku memang baik. “Trus?”, pancingku.
“Ruangan ini Aemi buat untuk melindungi siapapun yang masuk ke dunia Matta ini…karena sekalinya orang itu keluar dari ruangan ini, dia akan bisa melihat hal yang paling ingin dilihatnya dan hal yang paling tidak ingin dilihatnya…” Hoo…itu menjawab penglihatan tentang ibuku. Ya, aku memang sangat-sangat ingin sekali melihat ibuku dan aku sama sekali tidak mau melihat tubuh ibuku ter..ter..hhh..begitulah… “Tapi penglihatan yang akan dilihatnya itu bukanlah kenyataan yang sebenarnya. Itu hanyalah sebuah bentuk pikiran pribadi yang tidak mau dilihat dan mau dilihat.”.
TEPAT!! Karena sebenarnya aku memang tidak melihat kejadian tepat saat ibuku mengalami kecelakaan hebat! Aku hanya membayang-bayangkannya di pikiran berdasarkan cerita keluarga mengenai kondisi ibuku setelah kematiannya! Aku mengerti! Aku paham sekarang!!
Akan tetapi belum menjawab hal yang paling mendasar dari semua ini.
“Lalu…bagaimana kau bisa bawa aku ke tempat kayak gini?”
“Aemi menghinoptismu dan dengan niat beserta izin-Nya, Aemi berhasil membawa Prandie ke sini, ke Matta…”
“Jadi yang sekarang di hadapanmu ini apa, Aemi?”
“Kesadaranmu yang Aemi bawa… Mungkin di dalam dunia nyata, kita terlihat seperti dua anak yang sedang mematung, menatap mata satu sama lain…”
“…Makanya kau membawaku ke tempat yang sepi…”. Hhh… aku akhirnya bisa melihat benang dari semua ini sekarang. “Tapi…ngapain kamu bawa aku ke sini? Ngapain kamu memperlihatkan Matta ini kepadaku?”.
“….Ada yang Aemi ingin bicarakan…”
“Sekarang kan zaman modern… ada hape lo mbak…”
“Hhff….”, Aemi mendengus kesal…
“Ga mungkin kamu tertarik padaku kan?”
“Tentu saja bukan!”. Dia berbicara begitu sambil membuang muka. Menarik. Kebenarannya jadi diragukan. ”Kamu adalah salah satu dari manusia percobaan Aemi..tapi selebihnya memang ada yang ingin Aemi bicarakan…”
Ha-ha-ha…Manusia percobaan… Tanpa adanya izin, penggantian biaya jika ada bagian tubuh yang rusak…Kerja yang bagus, Aemi.
“Aemi membutuhkan bantuanmu… sebagai apoteker dan calon penerus perusahaan farmasi X…” Ini dia! Shock therapy lainnya yang berhasil memberikan efek dahsyat. Apa-apaan ini??!!
“Maksudmu apa??!”
“Untuk…”
“Aemi?”
“Aemi??!!”
Tiba-tiba saja terdengar suara entah dari mana memangil Aemi beberapa kali. Spontan saja suara itu menghentikan pembicaraan kami. Benar-benar mengganggu di saat-saat yang penting. Penglihatanku pun semakin kabur berbanding lurus dengan meningkatnya frekuensi dan intensitas suara panggilan itu.
Aku bisa menangkap kalimat terakhir Aemi di Matta kali ini: ‘maaf, waktunya sudah habis. Dilanjutkan saja di lain waktu…’ Tidak mengerti awalnya tapi akhirnya aku tahu bahwa akhirnya aku telah kembali ke dunia nyata. Ujung lorong sekolah yang bertembokan semen itu telah terlihat lagi. Dengan sekonyong-konyong, aku menangkap suatu jawaban siapa yang memanggil itu: Pak Thommy, salah satu guru SLB tersebut telah berdiri di samping Aemi, menangkap basah kami yang telah melakukan sesuatu hal yang tidak biasa: mematung dan hanya menatap satu sama lain. Wajahnya benar-benar menyiratkan keheranan yang amat dan pikiran ‘jangan ganggu dia’ terlihat dari pancaran matanya. Pria paruh baya itu membawa Aemi kembali, meninggalkan aku yang masih dalam kebingungan.
Dari belakang, Aemi menunjukkan handphonenya kepadaku. Sepertinya komunikasi selanjutnya akan berjalan dengan normal kembali, syukurlah. Dan aku bisa menebak, Aemi telah mencuri no HP ku dengan kemampuannya. Yaah…sudahlah.. Ah, tidak juga. Jangan-jangan dia mencuri data pribadi yang lain… Ah..sudahlah!
Sepeninggalnya, aku harus kembali ke tempatku dengan segera. Memang membuat hati dan akalku bercampur aduk tapi ada beberapa hal lain yang lebih diutamakan. Waktu pun semakin berjalan dan aku sebagai penerus dari perusahaan ayahku, tentunya tidak mempunyai banyak waktu luang lagi. Aku akan kembali ke realita dan realita terkadang menjadi lebih aneh dan tidak logis dari pada surealitanya. ‘Met bertemu lagi, Aemi.
Recent Comments